Rabu, 13 September 2023.

Bacaan:
Bacaan I: Kol 3:1-11;
Mzm 145:2-3.10-11.12-13ab;
Bacaan Injil: Luk 6:20-26.

Renungan Sore:

_Qui utuntur hoc mundo, tamquam non utantur: praeterit enim figura hujus mundi_ ; “Mereka yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia yang kita kenal sekarang ini akan berlalu”.

Hari ini kita merayakan peringatan wajib St. Yohanes Krisostomus (_Ιωάννης ο Χρυσόστομος, Ioannes Chrysostomos_). St. Yohanes hidup di tahun 347-407. Ia adalah Uskup Agung Konstantinopel. Berkat kefasihan dalam berkotbah dia mendapat julukan “Si Mulut Emas”. Kemampuannya dalam menyampaikan homili diperoleh berkat kedalamannya dalam berdoa dan merefleksikan hidupnya. St. Yohanes sadar bahwa segala yang ia dapatkan merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan atas kemampuan dirinya semata.

Kerendahan hati inilah yang membuat Yohanes senantiasa mengandalkan Allah dalam setiap karya pelayanannya. Belajar menjadi pribadi yang lepas bebas. Lepas dari ikatan duniawi sehingga dapat bebas mewujudkan jati diri sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak Allah kita sudah sepantasnya tidak lagi mengikatkan diri pada unsur-unsur duniawi, tetapi menjadikannya sebagai sarana guna mencapai kepenuhan hidup surgawi.

Untuk itulah Rasul Paulus menasehati agar kita jangan sampai diperalat/diperbudak oleh keinginan dan harta duniawi. Tuhan mengundang kita untuk mengumpulkan harta surgawi dimana ngengat dan karat tidak memakannya. Kitapun diajak untuk lepas bebas dari ikatan pribadi agar mampu menjadi tanda pengharapan dan antisipasi Kerajaan Allah. Kerajaan di mana semua orang, baik yang berkekurangan maupun memiliki harta benda, mendapatkan anugerah keselamatan.

Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tidak dilupakan dalam Kerajaan Allah, mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah. Kepada orang kaya tidak dikatakan kalian tak memiliki Kerajaan Allah. Namun kehidupan mereka itu kiranya tak ada artinya ("celakalah….") bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Yesus tidak menjajakan kemiskinan materiil sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber kejahatan.

Oleh karena itu, relasi dengan Allah dan kemawasan diri menjadi hal yang utama. Orang bisa saja menjadi sombong karena kesuksesan sehingga bersenang-senang secara berlebihan dan lupa kepada sesamanya; atau dalam kegagalan seseorangpun dapat merasa terpukul hingga putus asa dan menghujat penciptanya. Maka, sabda bahagia hendaknya juga menjadikan kita makin sadar akan pentingnya mengembangkan semangat solider. Orang Kristen perlu belajar menjembatani jurang pemisah yang makin menganga antara kaya-miskin, kenyang-lapar, terkenal-terlupakan. Marilah kita menghadirkan Kerajaan Allah itu dengan keberanian untuk semakin bersolider dengan sesama.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang senantiasa bersolider dan mengajak kita untuk saling berbagi dan berkorban satu sama lain.

Refleksi:
Bagaimana anda berani menperhatikan sesama yang berkekurangan di sekitar anda, kekurangan uang, makanan, pakaian, kasih sayang, dan perhatian?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa bersolider dengan mau berbagi dengan sesama khususnya mereka yang berkekurangan sebagai wujud kasih yang telah kami terima dari-Mu. Amin.

Perutusan:
Aku akan saling bersolider dan berbagi dengan sesama sekitarku.

– Rm. Antonius Yakin –