Renungan-Harian Status: publish

Senin biasa pekan ke-15 (H)
P. fak. St. Camillus de Lillis (P)
Senin, 14 Juli 2025.

Bacaan:
Bacaan I: Kel 1:8-14.22;
Mzm 124:1-3.4-6.7-8;
Bacaan Injil: Mat 10:34-11:1.

Renungan Sore:

Nolite arbitrari quia pacem Venerim mittere in terram: non Veni pacem mittere, sed gladium. Qui non accipit crucem suam, et sequitur Me, non est Me dignus ; “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku”.

Setiap dari kita pasti pernah mengalami konflik. Tidak pernah ada manusia yang tidak berkonflik. Yang paling penting bukanlah menghindari konflik melainkan bagaimana kita berani mengelola konflik. Jangan sampai konflik yang ada memecah belah persatuan. Namun jadikanlah konflik sebagai kesempatan untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih mendalam. Bila konflik dikelolah dengan baik justru dapat menjadi sarana pemersatu. Yang terpenting adalah bagaimana konflik ditanggapi dengan bijak dan penuh kasih.

Itulah sebabnya, Yesus mengajak kita untuk berani berkonflik dengan sehat. Perbedaan pendapat dibutuhkan untuk menemukan pilihan yang paling baik, pilihan yang sesuai dengan Kehendak Allah dan demi kebaikan semakin banyak orang. Kita dipanggil untuk mengelolah perbedaan dan konflik yang ada, bukan dikuasai oleh ketakutan sehingga bertindak intoleran bahkan merendahkan martabat sesama sebagaimana dilakukan oleh Firaun kepada bangsa Israel. Karena merasa terancam oleh kebesaran bangsa Israel, Firaun malah menyerang balik dengan mengintimidasi bahkan membunuh anak-anak Israel.

Tekanan yang ditimpahkan penguasa bukan membuat bangsa Israel hancur, tetapi berkat pertolongan Tuhan, jsutru semakin tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kitapun diajak untuk berani melihat dan menerima konflik sebagai salib yang mesti kita pikul bersama dengan Kristus. Salib yang mendewasakan kita sehingga semakin dapat peduli dan berbelas kasih dalam memberitakan Injil sukacita kepada sesama sekitar kita.

Kontemplasi:
Bayangkanlah pertolongan Allah dalam hidup anda, sehingga anda dapat melalui dan menyelesaikan setiap konflik kehidupan dengan dewasa dan bijaksana.

Refleksi:
Bagaimana anda menanggapi konflik dengan bijak dan penuh kasih?

Doa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk berani mengelolah konflik dengan dewasa. Amin.

Perutusan:
Aku akan melihat konflik sebagai sarana untuk menemukan Kehendak Allah dan kebaikan sesama.

– Rm. Antonius Yakin –