Renungan-Harian Status: publish
Sabtu biasa pekan ke-15 (H)
Sabtu, 19 Juli 2025.
Bacaan:
Bacaan I: Kel 12:37-42;
Mzm 136:1.23-24.10-12.13-15;
Bacaan Injil: Mat 12:14-21.
Renungan Sore:
Arundinem quassatam non confringet, et linum fumigans non extinguet, donec ejiciat ad victoriam judicium: et in nomine ejus gentes sperabunt ; “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap”.
Ada seorang bapak yang keras bahkan cenderung kasar dalam mendidik anaknya. Namun anaknya malah melawan balik dan tidak mengindahkan perintah bapaknya. Berbeda dengan seorang ibu yang senantiasa berdoa untuk keselamatan dan keberhasilan anaknya. Pada saat anak tersebut mendengarkan doa ibunya, perlahan dia tersentuh dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Justru dengan sapaan dan pengajaran yang penuh kesabaran, hati yang membekupun dapat dicairkan.
Suara Tuhan bukanlah suara yang keras dan mengancam, melainkan suara yang lembut dan penuh kasih. Maka kita diajak untuk peka terhadap panggilan dari Tuhan. Kita perlu membedakan mana yang suara Tuhan dan mana yang berasal dari dunia. Contohnya: selama ini tidak jarang tersebar doa-doa berantai, tujuan dari doa berantai adalah sesuatu yang baik, tetapi bila disertai dengan nada ancaman maka kita harus lebih kritis.
Allah yang diperkenalkan Kristus adalah Allah yang penuh kasih, yang tidak pernah mengancam anak-Nya. Allah yang senantiasa membebaskan dan menyertai kita, sebagaimana Dia menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Sesungguhnya jalan Yesus adalah kelembutan dan belas kasihan. Kuasa doa justru bekerja bukan dengan paksaan bahkan ancaman, melainkan dengan sapaan yang lembut dan penuh kasih. Semoga hidup kita berakar pada kasih dan kebenaran, sehingga dapat menyembuhkan yang remuk dan menguatkan sesama yang goyah.
Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang mengasihi anda, kasih yang tidak memaksa bahkan mengancam, melainkan kasih yang lembut dan menyadarkan anda untuk berubah bersama.
Refleksi:
Bagaimana anda berani mendengarkan dan mengikuti suara Tuhan yang bersabda melalui diri orang-orang sekitar anda?
Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk peka terhadap Suara-Mu yang hadir dalam diri orang-orang yang mencintai kami. Amin.
Perutusan:
Aku akan mengasah kepekaanku terhadap suara Tuhan dalam hidupku sehati-hari.
– Rm. Antonius Yakin –