Renungan-Harian Status: publish
Rabu biasa pekan ke-27 (H)
Rabu, 08 Oktober 2025.
Bacaan:
Bacaan I: Yun 4:1-11;
Mzm 86:3-6.9-10;
Bacaan Injil: Luk 11:1-4
Renungan Sore:
Dimitte nobis peccata nostra, siquidem et ipsi dimittimus omni debenti nobis ; "Ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami".
Pertobatan bukan melulu soal kesediaan kita dalam meninggalkan perbuatan yang keliru dan berbalik arah menuju tindakan yang baik. Tetapi pertama-tama adalah keterbukaan hati untuk menerima dan menghidupi rahmat pengampunan Allah. Melalui rahmat itulah, kita dimampukan untuk menanggalkan kesombongan dan ego kita yang biasa mementingkan diri sendiri sehingga jatuh pada perbuatan dosa.
Ada dua pendekatan yang sangat berbeda terkait pertobatan. Di satu sisi, mengandalkan usaha manusiawi yang bisa gagal dan membuat kita jatuh pada kemarahan bahkan keputusasaan, di sisi lain, membuka diri terhadap rahmat Tuhan yang panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya, yang memampukan kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Keterbukaan terhadap rahmat dan belas kasihan Tuhan hanya dapat terwujud melalui relasi yang akrab dan mesra. Itulah sebabnya, Yesus mengajarkan kita untuk menyebut Allah dengan sebutan Bapa. Relasi itu diwujudkan dalam kesetiaan/ketekunan kita dalam berkomunikasi dengan-Nya di dalam doa. “Tidak ada orang yang dapat hidup dengan sambil terus melakukan dosa dan sambil terus berdoa rosario.
Entah perbuatan dosa-nya yang akan berhenti, atau doa-nya yang berhenti” (Uskup Hugh Doyle).
Kontemplasi:
Bayangkanlah, melalui doa yang tekun, anda dirubah oleh rahmat Allah yang memampukan anda untuk menjauhi perbuatan dosa.
Refleksi:
Bagaimana keterbukaan hati terhadap rahmat pengampunan Tuhan, memampukan anda untuk menjauhi perbuatan dosa?
Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk mengandalkan dan berpaut pada-Mu dalam memperbaiki sikap dan kehidupanku. Amin.
Perutusan:
Aku akan berdoa secara tekun sehingga dimampukan untuk meninggalkan perbuatan dosaku.
– Rm. Antonius Yakin –