Kamis, 04 Mei 2023.

Bacaan:
Bacaan I: Kis 13:13-25;
Mzm 89:2-3.21-22.25.27;
Bacaan Injil: Yoh 13:16-20.

Renungan Sore:

Amen, amen Dico vobis: qui accipit si quem Misero, Me accipit; qui autem Me accipit, accipit Eum qui Me misit ; “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku”.

Seorang anak yang suka berulah dan bertingkah laku buruk di sekolahnya pasti membawa nama kurang baik kepada keluarganya. Mungkin saja orang tuanya dipanggil dan mendapat peringatan dari wali kelasnya. Begitupun dengan kita, sebagai Anak-Anak Allah, bila kita berlaku buruk maka sangat mungkin bila Tuhan, Gereja, maupun agama kita terbawa dan dicap jelek pula. Artinya, hidup kita tidak pernah terlepas dari iman dan kepercayaan yang kita anut. Kita diminta untuk hidup selaras dengan iman kita akan Allah yang Maha Kasih. Karena kita semua adalah utusan-Nya dalam mewartakan wajah Kerahiman-Nya.

Tugas sebagai utusan adalah membawa pesan yang membangun dan menghibur. Bukan saja menghibur dengan menyampai hal yang menyenangkan/enak didengar, tetapi juga pesan yang membangun. Perkataan yang tegas, jelas dan mengungkapkan kebenaran. Sebagaimana yang diungkapkan Paulus kepada jemaat di Antiokhia. Kita semua dipanggil untuk menjadi utusan Kristus menyebarkan kabar sukacita kepada banyak orang. Sebagai duta, kita senantiasa membawa Kristus sebagai tuan kita. Apa yang kita lakukan, ucapkan dan pikirkan merupakan perpanjangan dari Kristus.

Ada sebuah lagu anak-remaja yang melukiskan tugas perutusan kita sebagai perpanjangan dari karya Kristus. "Yesus tak punya tangan lagi, tangan kitalah yang menjadi tangan-Nya". Lirik dalam lagu tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Kita telah dipilih dan dikhususkan untuk meneruskan karya Kristus dalam mewartakan Kasih Allah. Oleh sebab itu, kitapun perlu menata diri agar mampu menjadi cerminan Kristus bagi sesama. Kita perlu hati-hati dalam berpikir, berujar dan berbuat. Namun jangan takut, kita memiliki Tuhan yang berlimpah kasih setia-Nya. Allah yang senantiasa menyertai dan meneguhkan langkah kita dalam mengarungi kehidupan ini. Allah yang menjadi gunung batu keselamatan kita. Allah yang bersolider dan tak bisa tidak ikut menderita bersama umat-Nya.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang mengutus anda untuk mewartakan kabar gembira yang menghibur sekaligus membangun umat.

Refleksi:
Bagaimana anda menyadari tugas perutusan Allah dalam hidup ini?

Doa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk menata hati dan budi sehingga pantas memperlihatkan diri sebagai utusan-Mu, mewartakan karya Kasih-Mu bagi sesama. Amin.

Perutusan:
Aku akan menunjukan Wajah Kerahiman Allah pada dunia, melalui pikiran, perkataan dan perbuatan konkret.

– Rm. Antonius Yakin –