Renungan-Harian Status: publish

Minggu Biasa ke-22 (H)
Minggu, 31 Agustus 2025.

Bacaan:
Bacaan I: Sir 3:17-18,20,28-29;
Mzm 68:4-5ac,6-7ab,10-11;
Bacaan II: Ibr 12:18-19,22-24a;
Bacaan Injil: Luk 14:1,7-14.

Renungan Sore:

quia omnis, qui se exaltat, humiliabitur : et qui se humiliat, exaltabitur ; “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Umat Katolik pernah disindir sebagai orang yang "rendah hati" karena sering memilih bangku belakang dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Hal ini juga berimbas pada kehidupan kita sehari-hari. Dari pada dianggap sombong dan pamer kita lebih baik menyembunyikan kebenaran yang kita yakini. Kerap kitapun lebih mudah merendah daripada dengan jujur mengungkapkan kelebihan yang dimiliki. Kita lebih memilih mengatakan kelemahan-kelemahan kita dibanding mengakui kemampuan diri, yang merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Kerendahan hati akhirnya dimaknai secara sempit. Kita hanya berfokus pada kekurangan yang dimiliki, sehingga kitapun sulit bersyukur.

Kita justru menjadi pribadi yang tinggi hati/sombong karena ketidakmampuan kita untuk mensyukuri talenta yang diberikan Tuhan. Kerendahan hati bukanlah berarti merendahkan diri, melainkan mengakui bahwa semua karunia dan kehormatan berasal dari Tuhan. Kerendahan hati membebaskan kita dari beban ambisi yang tak berkesudahan dan ketakutan akan kegagalan. Kerendahan hati bukanlah menyembunyikan diri, tetapi mengetahui siapa kita di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang memiliki damai di dalam hatinya, karena ia tidak membebani diri dengan ambisi untuk menjadi yang pertama.

Yesus juga mengajak kita untuk menjadi seperti Dia: rendah hati dalam sikap dan murah hati dalam perbuatan. Itulah sebabnya, Ia memanggil kita untuk memberi tanpa mengharapkan balasan, kita bukan hanya membantu orang lain, tetapi kita juga memurnikan hati kita sendiri. Kasih yang murni adalah kasih yang tidak mengharapkan balasan. Ini adalah kasih yang membebaskan kita dari egoisme dan membuka hati kita untuk berkat Tuhan. Mari kita mengundang orang yang "tidak bisa membalas" ke perjamuan hidup kita: baik itu dengan berbagi waktu, berbagi berkat, atau sekadar memberi senyum.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang menciptakan anda sungguh amat baik adanya, dengan segala keunikan dan keutamaannya.

Refleksi:
Bagaimana anda menemukan, mengakui dan mengembangkan sisi positif yang ada padamu? Apa anda sungguh tulus dalam melaksanakan pelayanan yang dipercayakan Tuhan?

Doa:
Ya Bapa, mampukanlah diriku untuk mengakui potensi dan kelebihanku dengan jujur sehingga aku dapat melayani-Mu dan sesama dengan tulus, tanpa pamrih. Amin.

Perutusan:
Saya akan bersyukur atas talenta yang diberikan Tuhan dengan cara melaksanakan pelayanan dengan ikhlas.

– Rm. Antonius Yakin –