Renungan-Harian Status: publish
Pesta Sta. Theresia Lisieux, Kanak-kanak Yesus (P)
Rabu, 01 Oktober 2025.
Bacaan:
Bacaan I: Yes 66:10-14c/1Kor 12:31-13:13;
Mzm 119:66.71.75.91.125.130;
Bacaan Injil: Mat 18:1-5.
Renungan Sore:
Quicumque ergo humiliaverit se sicut parvulus iste, hic est major in regno caelorum ; “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga”.
Hari ini kita merayakan banyak peringatan, mulai dari Kesaktian Pancasila; Pembukaan Bulan Rosario dan Pesta Theresia Lisieux, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Theresia kanak-kanak Yesus. Untuk merangkum ke-ketiga peringatan besar ini dalam sebuah renungan, saya mencoba menampilkan pribadi Theresia kanak-kanak Yesus sebagai benang merah yang mengikatnya. Theresia dari Lisieux dilahirkan dengan nama Marie-Françoise-Thérèse Martin. Ia lahir sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Theresia lahir di Alençon, Prancis, 2 Januari 1873 dari pasangan St. Louis Martin dan Sta. Marie-Azélie Guérin.
Theresia menjadi suster Karmelit di usianya yang ke-15 tahun. Ia meninggal di Lisieux, Prancis, 30 September 1897 pada umur 24 tahun. Theresia kanak-kanak Yesus kemudian dibeatifikasi pada bulan April tahun 1923 dan dikanonisasi pada 17 Mei, 1925, oleh Paus Pius XI. Selain sebagai Doktor Gereja, dia juga diangkat menjadi santa pelindung penderita AIDS, penerbang, toko bunga, penyakit, dan misi. Selain Sta. Theresia, St. Fransiskus Xaverius juga diangkat menjadi pelindung misi. Bila St. Fransiskus Xaverius pergi jauh dan luas di seluruh Asia dan sejauh Tiongkok untuk memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus dan membaptis banyak orang, Sta. Theresia tidak melakukan hal di atas.
Dia menghabiskan kehidupan religiusnya di biara Karmelit di Lisieux. Meskipun dia ingin pergi ke Asia untuk membantu mendirikan yayasan di sana, kesehatan yang buruk menjadi kendalanya. Namun, di dalam empat tembok biara di Lisieux, dia mengembangkan semangat misionaris dengan melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan cinta yang besar. Saat persatuannya dengan Yesus semakin dalam, dia mempersembahkan semua penderitaannya kepada Yesus sebagai tindakan persatuan dengan Dia di Kayu Salib. Dia memiliki keinginan untuk menjadi misionaris, martir, orang suci. Pada akhirnya dia menemukan apa panggilannya yang sebenarnya.
Dengan pelbagai macam atributnya sebagai santa pelindung dan Dokter Gereja, Sta. Theresia bukanlah pribadi yang cemerlang dalam fisik maupun pengetahuan. Kesucian Theresia bersinar justru dalam kesederhanaan, kerendahan hati dan kepercayaannya kepada Tuhan. Kesuciannya tidak ditempuh melalui kecerdasan pikiran, tulisan teologis, jabatan gerejawi, atau pengaruh sosial dalam Gereja dan masyarakat. Melainkan melalui pekerjaan rutin sehari-hari dan biasa, tidak hebat dan tidak sensasional. Ia sunguh hidup seperti anak kecil yang jauh dari publikasi dan unggahan foto-foto keren.
Santa Theresia menghidupi jalan kecilnya dalam kepercayaan bahwa Yesus selalu memberi yang terbaik dan terindah dalam hidupnya. Dalam otobiografinya, L’histoire d’une âme (Kisah Suatu Jiwa), Sta. Theresia menulis: “Karena diliputi kegembiraan, saya berseru, ‘Yesus, cintaku. Akhirnya saya menemukan panggilan saya. Panggilan saya adalah cinta. Di jantung Gereja, ibuku, aku akan menjadi cinta, dan kemudian aku akan menjadi segalanya’”. Oleh karena itu, Sta. Theresia selalu berusaha melakukan segala sesuatu, bahkan yang terkecil, dengan cinta yang besar.
Kiranya Cinta yang besar dari ketulusan seorang anak-anak inilah yang dapat menjadi pemersatu dari ke-tiga perayaan yang kita peringati hari ini. Hanya dengan cinta kepada negara dan sesama masyarakat di sekitar, kita dapat mempertahankan Kesaktian Pancasila terhadap ancaman bangsa dan falsafah asing; Kesatuan bangsa dimulai dari keutuhan keluarga dan lingkungan sekitar. Dasar dari kita berbagi kasih tidak lain dari Cinta Allah yang nyata hadir dalam sejarah manusia dan berpuncak pada diri Kristus yang kita renungkan kembali dalam 4 peristiwa (Gembira, Sedih, Mulia dan terang) dari Rosario Suci.
Kesadaran akan Cinta Allah inilah yang memampukan kita untuk berdoa secara tulus sebagai jalan menuju Surga dan mengantar kita kepada Kristus. Sebagaimana diutarakan oleh Theresia Lisieux: “Bagi saya, doa adalah aspirasi hati, itu adalah pandangan sederhana yang mengarahkan diri ke surga, sebuah teriakan syukur dan cinta di tengah pencobaan serta kegembiraan; akhirnya itu adalah sesuatu yang agung, supernatural, yang mengembangkan jiwa saya dan mempersatukan saya dengan Yesus”.
Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang begitu mencintai kita anak-anak-Nya
Refleksi:
Bagaimana anda percaya kepada kasih dan penyelenggaraan Allah dalam hidup ini?
Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk percaya akan Kasih-Mu yang senantiasa menyertai kami. Amin.
Perutusan:
Aku akan meneladan kepolosan, kerendah-hatian dan kepercayaan Sta. Theresia.
– Rm. Antonius Yakin –